wH850wR0hH3f2OXVEwuLsF4eAHVV7xotcWGr1NzH
Bookmark
PT. AJMAL NOOR WISATA | IZIN NOMOR: 91202036623460001 (TAHUN 2023)

Memahami Sa’i: Rukun, Ketentuan, dan Tata Cara 7 Kali Shafa–Marwah

Sa'i adalah rukun ibadah umrah dan haji yang wajib ditunaikan, yaitu berjalan kaki atau berlari-lari kecil sebanyak 7 (tujuh) kali bolak-balik antara Bukit Shafa dan Bukit Marwah. Artikel ini membahas pengertian Sa'i, ketentuan utama, tata cara, cara menghitung 7 kali, hingga doa-doa yang dibaca di sepanjang perjalanan, lengkap dengan dalil dan hikmahnya.

Simak pembahasan lengkapnya berikut ini, mulai dari definisi dan kedudukan Sa'i sebagai rukun, ketentuan titik mulai dan selesai, tata cara pelaksanaan, bacaan doa dari Shafa hingga Marwah, hingga asal-usul dan makna spiritualnya.

Apa Itu Sa'i?

Sa'i secara bahasa berarti "berjalan" atau "berusaha". Dalam istilah ibadah, Sa'i adalah berjalan kaki atau berlari-lari kecil sebanyak tujuh kali bolak-balik antara Bukit Shafa dan Bukit Marwah.

Sa'i merupakan bagian tak terpisahkan dari ibadah umrah dan haji. Dalam mazhab Syafi'i, Sa'i termasuk rukun, yang berarti tidak dapat ditinggalkan dan tidak dapat diganti dengan dam (denda). Jika seseorang meninggalkannya, maka ibadah umrah atau hajinya tidak sah.

Perlu dicatat, dalam literatur fiqh istilah "rukun" dan "wajib" memiliki pengertian yang berbeda. Rukun adalah amalan yang menjadi bagian pokok ibadah dan tidak bisa digantikan, sementara wajib adalah amalan yang jika ditinggalkan harus diganti dengan dam. Dalam mazhab Syafi'i, Sa'i masuk kategori rukun, sehingga kedudukannya sangat penting dan tidak boleh diabaikan.

Ketentuan Utama Sa'i

Sebelum melangkah ke tata cara, ada baiknya memahami ketentuan-ketentuan pokok Sa'i berikut ini:

  1. Titik Mulai dan Selesai: Sa'i wajib dimulai dari Bukit Shafa dan berakhir di Bukit Marwah. Arah ini tidak boleh dibalik.
  2. Perhitungan Tujuh Kali: Perjalanan dari Shafa ke Marwah dihitung satu kali, dan dari Marwah ke Shafa juga dihitung satu kali. Total tujuh kali perjalanan berujung di Bukit Marwah.
  3. Jarak Tempuh: Jarak antara Shafa dan Marwah sekitar 400 meter. Total jarak yang dilalui jamaah kurang lebih 2,8 hingga 3 kilometer.
  4. Dilakukan Setelah Tawaf: Sa'i dilaksanakan setelah jamaah menyelesaikan ibadah tawaf mengelilingi Ka'bah.
  5. Ketentuan Fisik: Sa'i dilakukan dengan berjalan kaki. Bagi jamaah yang memiliki uzur—sakit, lanjut usia, hamil, atau disabilitas—diperbolehkan menggunakan kursi roda atau skuter matik yang tersedia.
  6. Sunnah bagi Laki-laki: Jamaah laki-laki disunnahkan melakukan ar-raml (berlari-lari kecil) di antara dua pilar hijau, bukan sepanjang jalur.

Tata Cara Sa'i Secara Ringkas

Berikut langkah-langkah Sa'i yang dapat dijadikan panduan:

  1. Persiapan: Pastikan diri dalam keadaan suci, siapkan fisik, alas kaki yang nyaman, serta niat yang tulus.
  2. Menuju Bukit Shafa: Setelah selesai tawaf, jamaah menuju Bukit Shafa.
  3. Perjalanan Pertama (Shafa → Marwah): Berjalan menuju Marwah sambil berzikir dan berdoa. Laki-laki melakukan ar-raml saat melewati dua pilar hijau.
  4. Perjalanan Kedua (Marwah → Shafa): Setibanya di Marwah, hitungan pertama selesai. Berbalik arah menuju Shafa.
  5. Mengulangi Hingga Tujuh Kali: Lanjutkan hingga hitungan ketujuh yang berakhir di Bukit Marwah.
  6. Berdoa di Akhir Sa'i: Setelah mencapai Marwah pada hitungan ketujuh, disunnahkan berdoa dan berzikir sebagai penutup.

Doa-doa Saat Sa'i: Dari Shafa hingga Marwah

Sa'i bukan sekadar aktivitas fisik. Di sepanjang perjalanan ini, lisan dan hati dianjurkan terus basah dengan zikir dan doa. Rasulullah SAW memberikan contoh konkret tentang apa yang dibaca saat berada di Bukit Shafa, di tengah perjalanan, dan di Bukit Marwah.

1. Doa Sebelum Memulai Sa'i: Menuju Shafa

Sebelum mendaki Bukit Shafa, jamaah dianjurkan membaca doa yang menegaskan bahwa Sa'i dimulai dari Shafa, mengikuti apa yang telah Allah dan Rasul-Nya tetapkan.

أَبْدَأُ بِمَا بَدَأَ اللهُ بِهِ وَرَسُولُهُ. إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللهِ. فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا. وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ

Latin: Abda'u bimā bada'allāhu bihi wa rasūluhu. Innaṣ-ṣafā wal-marwata min sya'ā'irillāh. Faman ḥajjal-baita awi'tamara falā junāḥa 'alaihi an yaṭṭawwafa bihimā. Wa man taṭawwa'a khairan fa innallāha syākirun 'alīm.

Artinya: "Aku memulai dengan apa yang telah dimulai oleh Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar-syiar Allah. Maka barangsiapa berhaji ke Baitullah atau berumrah, tidak ada dosa baginya mengerjakan Sa'i antara keduanya. Dan barangsiapa mengerjakan kebaikan dengan sukarela, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui."

Doa sebelum memulai Sa'i

2. Doa di Puncak Bukit Shafa: Menghadap Kiblat

Setibanya di Bukit Shafa, jamaah dianjurkan menghadap kiblat, lalu bertakbir tiga kali dan membaca kalimat tauhid serta pujian kepada Allah.

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

Latin: Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar.

Artinya: "Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar."

Takbir tiga kali di Bukit Shafa

Setelah takbir, membaca dzikir tauhid sebanyak tiga kali:

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، أَنْجَزَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ

Latin: Lā ilāha illallāhu waḥdahu lā syarīka lah, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu, wa huwa 'alā kulli syai'in qadīr. Lā ilāha illallāh, anjaza wa'dah, wa naṣara 'abdah, wa hazamal-aḥzāba waḥdah.

Artinya: "Tiada Tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala pujian. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tiada Tuhan selain Allah. Dia telah menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan mengalahkan golongan-golongan (musuh) dengan sendirian."

Dzikir tauhid di Bukit Shafa (dibaca 3 kali)

Dzikir ini dibaca tiga kali, dan di sela-selanya jamaah boleh memanjatkan doa apa pun. Setelah selesai, barulah turun dari Shafa menuju Marwah untuk perjalanan pertama.

3. Doa di Tengah Perjalanan: Antara Shafa dan Marwah

Selama berjalan dari Shafa ke Marwah—dan sebaliknya—jamaah dianjurkan memperbanyak doa. Salah satu doa yang diriwayatkan dari para sahabat, khususnya Abdullah bin Mas'ud dan Abdullah bin Umar, adalah:

رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْأَعَزُّ الْأَكْرَمُ

Latin: Rabbighfir warḥam innaka antal-a'azzul-akram.

Artinya: "Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan rahmatilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Mulia."

Doa di antara Shafa dan Marwah — HR. Baihaqi

Doa ini singkat namun mencakup dua kebutuhan utama seorang hamba: ampunan (maghfirah) dan rahmat (rahmah). Imam Baihaqi meriwayatkan doa ini dalam As-Sunan al-Kubra, dan disebutkan pula dalam Al-Mushannaf karya Ibnu Abi Syaibah serta Ad-Du'a karya ath-Thabrani.

Dalam riwayat lain, doa yang dibaca di antara Shafa dan Marwah juga mencakup permohonan ampunan yang lebih panjang:

رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاعْفُ عَمَّا تَعْلَمُ، وَأَنْتَ الْأَعَزُّ الْأَكْرَمُ. اللَّهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Latin: Rabbighfir warḥam wa'fu 'ammā ta'lam, wa antal-a'azzul-akram. Allāhumma ātinā fid-dun-yā ḥasanah wa fil-ākhirati ḥasanah wa qinā 'ażāban-nār.

Artinya: "Wahai Tuhanku, ampunilah aku, rahmatilah aku, maafkanlah apa yang Engkau ketahui, dan Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia. Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka."

Doa lengkap di antara Shafa dan Marwah

4. Doa saat Melewati Dua Pilar Hijau (Ar-Raml)

Saat melewati area dua pilar hijau, jamaah laki-laki disunnahkan melakukan ar-raml (berlari-lari kecil). Pada momen ini, dianjurkan memperbanyak zikir dan doa, termasuk membaca talbiyah dengan suara perlahan.

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ

Latin: Labbaika Allāhumma labbaika, labbaika lā syarīka laka labbaika, innal-ḥamda wan-ni'mata laka wal-mulka, lā syarīka lak.

Artinya: "Aku datang memenuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Aku datang memenuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, nikmat, dan kerajaan adalah milik-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu."

Talbiyah saat melewati dua pilar hijau

Selain talbiyah, jamaah juga dapat membaca doa Rabbighfir warḥam yang telah disebutkan, atau berzikir dengan kalimat-kalimat pendek seperti Subhanallah, Alhamdulillah, dan Allahu Akbar.

5. Doa di Puncak Bukit Marwah

Setibanya di Bukit Marwah, jamaah dianjurkan melakukan hal yang sama seperti di Bukit Shafa: menghadap kiblat, bertakbir, membaca dzikir tauhid, dan berdoa. Rasulullah SAW membaca dzikir dan doa yang sama di Marwah sebagaimana beliau membacanya di Shafa.

Urutan amalan di Marwah:

  1. Menghadap kiblat.
  2. Bertakbir tiga kali.
  3. Membaca dzikir tauhid tiga kali (seperti di Shafa).
  4. Berdoa sesuai kebutuhan masing-masing.

Setelah selesai berdoa di Marwah, jamaah berbalik arah menuju Shafa untuk perjalanan kedua, dan seterusnya hingga hitungan ketujuh.

6. Doa Penutup Setelah Sa'i

Setelah mencapai Marwah pada hitungan ketujuh, rangkaian Sa'i selesai. Tidak ada doa khusus yang wajib dibaca setelah Sa'i, tetapi jamaah dianjurkan memanjatkan doa syukur dan permohonan keberkahan. Salah satu doa yang baik dibaca adalah:

اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا سَعْيَنَا، وَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الصَّالِحِينَ

Latin: Allāhumma taqabbal minnā sa'yanā, waghfir lanā żunūbanā, waj'alnā minaṣ-ṣāliḥīn.

Artinya: "Ya Allah, terimalah Sa'i kami, ampunilah dosa-dosa kami, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang saleh."

Doa penutup setelah Sa'i

Doa ini tidak memiliki dalil khusus yang marfu' kepada Nabi SAW, tetapi maknanya sejalan dengan semangat Sa'i sebagai ibadah yang penuh permohonan ampun dan rahmat.

Ringkasan Alur Doa Saat Sa'i

Agar lebih mudah diingat, berikut ringkasan alur doa di sepanjang Sa'i:

  • Sebelum menuju Shafa: Niat Sa'i dan bacaan Abda'u bimā bada'allāh.
  • Di puncak Shafa: Takbir 3x, dzikir tauhid 3x, doa bebas.
  • Antara Shafa–Marwah: Rabbighfir warḥam innaka antal-a'azzul-akram.
  • Melewati pilar hijau: Talbiyah dan zikir (bagi laki-laki saat ar-raml).
  • Di puncak Marwah: Takbir 3x, dzikir tauhid 3x, doa bebas.
  • Setelah Sa'i selesai: Doa syukur dan permohonan keberkahan.

Cara Menghitung 7 Kali agar Tidak Keliru

Kesalahan menghitung adalah hal yang sering terjadi, terutama bagi jamaah yang baru pertama kali menunaikan ibadah. Berikut ilustrasi urutan perjalanan yang benar:

  1. Shafa → Marwah (hitungan ke-1)
  2. Marwah → Shafa (hitungan ke-2)
  3. Shafa → Marwah (hitungan ke-3)
  4. Marwah → Shafa (hitungan ke-4)
  5. Shafa → Marwah (hitungan ke-5)
  6. Marwah → Shafa (hitungan ke-6)
  7. Shafa → Marwah (hitungan ke-7)

Perhatikan bahwa hitungan bukan "pulang-pergi" sebagai satu kali, melainkan setiap arah perjalanan dihitung satu kali. Dengan pola ini, perjalanan ketujuh selalu berakhir di Marwah.

Tips praktis agar tidak salah hitung:

  • Gunakan gelang penghitung atau aplikasi penghitung di ponsel.
  • Fokus pada arah perjalanan, bukan pada jumlah langkah.
  • Ingat bahwa setiap kali tiba di salah satu bukit, hitungan bertambah satu.

Asal-Usul Sa'i dan Maknanya

Sa'i bukan amalan yang muncul tanpa sejarah. Ia meneladani kisah pengorbanan dan keteguhan iman Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim AS.

Dikisahkan, Siti Hajar dan putranya, Nabi Ismail AS, ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim AS di lembah yang tandus atas perintah Allah. Ketika persediaan air habis, Ismail kecil menangis kehausan. Siti Hajar pun berlari bolak-balik antara Shafa dan Marwah, mencari air atau pertolongan, hingga tujuh kali.

Setelah upayanya yang gigih, Allah SWT memunculkan sumber air dari bawah kaki Nabi Ismail—yang kemudian dikenal sebagai air zamzam. Kisah ini menjadi simbol bahwa ikhtiar maksimal harus diiringi tawakal kepada Allah.

Makna yang terkandung dalam Sa'i sangat dalam: ikhtiar, kesabaran, pengorbanan, dan keteguhan iman. Setiap langkah jamaah di sepanjang jalur Shafa–Marwah adalah pengingat akan perjuangan seorang ibu yang tak pernah menyerah.

Ketentuan bagi Jamaah yang Memiliki Uzur

Islam memberikan kemudahan bagi jamaah yang memiliki keterbatasan. Berikut ketentuan yang perlu diperhatikan:

  • Sakit, lanjut usia, hamil, atau disabilitas diperbolehkan menggunakan kursi roda atau skuter matik yang tersedia di area Sa'i.
  • Jamaah yang menggunakan kursi roda umumnya didampingi oleh petugas atau pendamping.
  • Meskipun menggunakan alat bantu, hitungan tujuh kali tetap berlaku sama.
  • Adab yang perlu dijaga: tidak menyerobot jalur pejalan kaki, menjaga ketertiban, dan menghormati jamaah lain.

Kesalahan Umum dan Tips Praktis

Beberapa kesalahan yang sering terjadi saat Sa'i antara lain:

  • Memulai dari Marwah alih-alih dari Shafa.
  • Salah menghitung karena menganggap satu kali adalah pulang-pergi.
  • Mengira ar-raml dilakukan sepanjang jalur, padahal hanya di antara dua pilar hijau.
  • Lupa bahwa Sa'i dilakukan setelah tawaf, sehingga urutannya keliru.

Tips praktis:

  • Pelajari tata cara Sa'i sebelum berangkat agar lebih percaya diri.
  • Jaga energi dan hidrasi, mengingat total jarak yang ditempuh cukup panjang.
  • Fokus pada hitungan dan arah perjalanan.
  • Perbanyak zikir dan doa agar hati tetap tenang.

Penutup

Sa'i adalah rukun ibadah yang tidak boleh ditinggalkan. Ketentuannya jelas: dimulai dari Shafa, berakhir di Marwah, sebanyak tujuh kali perjalanan, dan dilakukan setelah tawaf. Di balik rangkaian langkahnya, tersimpan kisah Siti Hajar yang mengajarkan tentang ikhtiar, tawakal, dan keteguhan iman.

Memahami Sa'i bukan hanya soal menghafal tata cara, tetapi juga menghayati maknanya. Dengan ilmu yang cukup dan hati yang tenang, setiap langkah di sepanjang Shafa–Marwah dapat menjadi ibadah yang khusyuk dan bermakna. Semoga artikel ini bermanfaat bagi Anda yang sedang mempersiapkan perjalanan ibadah, dan semoga ibadah umrah serta haji kita menjadi ibadah yang mabrur.

❓Pertanyaan Seputar Sa'i Shafa–Marwah

1. Apa itu Sa'i dan bagaimana hukumnya dalam ibadah umrah dan haji?

Sa'i adalah berjalan kaki atau berlari-lari kecil sebanyak tujuh kali bolak-balik antara Bukit Shafa dan Bukit Marwah. Dalam mazhab Syafi'i, Sa'i termasuk rukun, sehingga tidak dapat ditinggalkan dan tidak dapat diganti dengan dam (denda).

Jika seseorang meninggalkan Sa'i, maka ibadah umrah atau hajinya tidak sah dan harus diulang.

2. Dari mana Sa'i dimulai dan di mana berakhir?

Sa'i wajib dimulai dari Bukit Shafa dan berakhir di Bukit Marwah. Arah ini tidak boleh dibalik.

Jika seseorang memulai dari Marwah, maka perjalanannya tidak dihitung sebagai Sa'i yang sah dan harus mengulang dari Shafa.

3. Bagaimana cara menghitung tujuh kali perjalanan Sa'i agar tidak keliru?

Perjalanan dari Shafa ke Marwah dihitung satu kali, dan dari Marwah ke Shafa juga dihitung satu kali. Jadi, satu kali bukan berarti pulang-pergi, melainkan setiap arah perjalanan dihitung satu.

Urutan lengkapnya: (1) Shafa → Marwah, (2) Marwah → Shafa, (3) Shafa → Marwah, (4) Marwah → Shafa, (5) Shafa → Marwah, (6) Marwah → Shafa, (7) Shafa → Marwah. Perjalanan ketujuh berakhir di Bukit Marwah.

4. Apakah Sa'i harus dilakukan setelah tawaf?

Ya. Sa'i wajib dilaksanakan setelah selesai tawaf mengelilingi Ka'bah. Urutan ini merupakan syarat utama yang tidak boleh dilanggar.

Jika seseorang melakukan Sa'i sebelum tawaf, maka Sa'i-nya tidak sah dan harus diulang setelah tawaf.

5. Berapa jarak total yang ditempuh saat Sa'i?

Jarak antara Bukit Shafa dan Bukit Marwah sekitar 400 meter untuk satu arah. Karena ditempuh tujuh kali bolak-balik, total jarak yang dilalui jamaah kurang lebih 2,8 hingga 3 kilometer.

Karena itu, jamaah dianjurkan menjaga kondisi fisik, memakai alas kaki yang nyaman, dan cukup minum sebelum memulai Sa'i.

6. Apakah Sa'i boleh menggunakan kursi roda atau skuter?

Boleh, bagi jamaah yang memiliki uzur seperti sakit, lanjut usia, hamil, atau disabilitas. Kursi roda dan skuter matik telah disediakan di area Sa'i.

Meskipun menggunakan alat bantu, hitungan tujuh kali tetap berlaku sama. Jamaah juga dianjurkan menjaga adab, seperti tidak menyerobot jalur pejalan kaki dan menghormati jamaah lain.

7. Apa itu ar-raml dan siapa yang disunnahkan melakukannya?

Ar-raml adalah berlari-lari kecil dengan langkah cepat namun tidak sampai berlari penuh. Amalan ini disunnahkan bagi jamaah laki-laki.

Ar-raml hanya dilakukan di antara dua pilar hijau, bukan sepanjang jalur Sa'i. Jamaah perempuan tidak disunnahkan melakukan ar-raml.

8. Apakah Sa'i harus dalam keadaan suci dari hadas?

Sa'i tetap sah meskipun dilakukan tanpa wudhu, karena suci dari hadas bukanlah syarat sah Sa'i. Namun, jamaah dianjurkan tetap berwudhu terlebih dahulu sebagai bentuk keutamaan dan menghormati ibadah.

Berbeda dengan tawaf yang disyaratkan suci dari hadas, Sa'i lebih longgar dalam hal ini.

9. Doa apa yang dianjurkan dibaca di sepanjang Sa'i?

Beberapa doa yang dianjurkan antara lain:

  • Sebelum menuju Shafa: bacaan Abda'u bimā bada'allāhu bihi wa rasūluhu.
  • Di puncak Shafa dan Marwah: takbir 3 kali dan dzikir tauhid 3 kali.
  • Di tengah perjalanan: Rabbighfir warḥam innaka antal-a'azzul-akram.
  • Saat melewati pilar hijau: talbiyah dan zikir bagi jamaah laki-laki saat ar-raml.

Selain doa-doa tersebut, jamaah bebas berdoa sesuai kebutuhan masing-masing, karena Sa'i adalah waktu yang mustajab untuk berdoa.

10. Apa makna dan hikmah di balik ibadah Sa'i?

Sa'i meneladani kisah pengorbanan Siti Hajar yang berlari bolak-balik antara Shafa dan Marwah mencari air untuk putranya, Nabi Ismail AS, hingga Allah memunculkan sumber air zamzam.

Hikmah yang terkandung di dalamnya antara lain: ikhtiar maksimal yang diiringi tawakal, kesabaran, pengorbanan, dan keteguhan iman. Setiap langkah jamaah di jalur Sa'i adalah pengingat akan perjuangan seorang ibu yang tak pernah menyerah.

11. Apakah Sa'i boleh dilakukan dengan berhenti atau istirahat di tengah jalan?

Boleh. Jamaah dapat berhenti sejenak untuk beristirahat, berdoa, atau minum di tengah perjalanan Sa'i. Namun, jamaah dianjurkan tidak duduk terlalu lama di jalur agar tidak mengganggu jamaah lain yang sedang berjalan.

Yang terpenting, hitungan perjalanan tetap dilanjutkan hingga mencapai tujuh kali dan berakhir di Bukit Marwah.

Posting Komentar

Posting Komentar

Aktivitas Umroh di Instagram

Ikuti aktivitas terbaru kami di Instagram, termasuk perjalanan Umroh, tips perjalanan, dan momen spesial jamaah. Temukan update foto dan cerita inspiratif dari perjalanan ibadah kami.